Sanksi Apa Yang Tepat

Ini adalah artikel ketiga saya seputar pertandingan antara Persija dan Persib. Sekadar informasi, artikel pertama berjudul “Memadamkan Gelora Bandung Lautan Api”. Sementara yang kedua yang bertajuk “El Clasico”.

 

Awalnya saya enggan menulis cerita tentang apa yang telah terjadi dan menjadi perbincangan hangat publik beberapa hari belakangan ini. Cerita tentang meninggalnya Haringga Sirila di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) imbas dari aksi pengeroyokan oleh sekelompok oknum suporter.

 

Di artikel ini saya tidak menyoroti bagaimana dan oleh siapa Haringga menemui ajalnya. Menurut saya, sudah banyak pihak yang bersuara tentang peristiwa tewasnya pemuda 23 tahun ini. Saya lebih tertarik untuk melihat solusi dan langkah konkrit kedepan agar tidak ada lagi korban tewas karena sepak bola.

 

Beberapa pihak yang memiliki kepentingan terhadap masalah ini bersikap. Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) mencabut izin penyelenggaraan Liga 1 Senior selama sepekan dengan alasan berduka cita untuk menghormati mendiang Haringga. Menyusul kemudian Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang memberhentikan kompetisi yang sama selama 2 pekan. Dari pihak federasi sendiri, melalui Ketua Umumnya, PSSI membuat statement dengan “mengistirahatkan” liga yang dimaksud hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

 

Pada Selasa 25 September 2018, Asosiasi Pesepak bola Profesional Indonesia (APPI) pun ikut menyatakan sikap. APPI bereaksi cepat terhadap persoalan ini dengan mengundang semua perwakilan anggotanya yang tersebar di 18 klub peserta Liga 1. Mayoritas perwakilan klub ikut berdiskusi mencari solusi. Tercatat perwakilan 15 klub hadir, sementara 3 lainnya berhalangan datang.

 

Diskusi menghasilkan 6 poin sebagai tanggapan dan sikap resmi organisasi terhadap kasus meninggalnya Haringga Sirila. Sikap APPI ini dibacakan langsung oleh Andritany Ardhiyasa, Wakil Presiden APPI, yang menggantikan posisi Firman Utina, Presiden APPI. Firman Utina berhalangan hadir karena sedang mengambil kursus kepelatihan.

 

Berikut adalah 6 butir sikap APPI:

 

1. Mengecam segala bentuk kekerasan yang terjadi, terlebih yang merenggut nyawa, yang seharusnya sepak bola menjadi olahraga yang menunjung tinggi sportivitas.

 

2. Meminta pihak kepolisian mengusut kasus ini hingga tuntas dengan memberikan hukuman sesuai hukum yang berlaku di Republik Indonesia dan memberikan efek jera tidak hanya bagi pelaku, tetapi bagi seluruh suporter di Indonesia agar hal ini menjadi yang terakhir kalinya.

 

3. Mendesak kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan PT LIga Baru (LIB) untuk juga dapat memberikan hukuman yang adil yang dapat memberikan efek jera bagi pihak-pihak yang terkait dengan insiden ini dikarenakan insiden ini telah berulang kali terjadi, namun hukuman yang diberikan tidak memberikan dampak bagi pihak-pihak yang terkait tersebut.

 

4. Meminta kepada seluruh suporter Tim Liga 1 khususnya dan Tim Liga 2 untuk membuat Nota Damai atau kesepakatan bersama untuk memastikan insiden ini tidak terulang kembali, karena sepak bola Indonesia akan terancam jika insiden ini kembali berulang.

 

5. Nota Damai tersebut akan disinergikan dengan stake holder sepak bola Indonesia, yaitu PSSI, LIB, Kepolisian, dan juga pemerintah baik pusat maupun daerah.

 

6. Kami, pesepak bola yang tergabung di Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) dan mewakili dari tiap-tiap klub peserta Liga 1 tahun 2018 sebagai bentuk belasungkawa atas insiden yang terjadi dan juga sebagai bentuk desakan kepada suporter, kami sepakat untuk tidak bermain pada pekan ke-24 Liga 1 2018 hingga tercapainya Nota Damai Suporter tersebut.

 

Terkait 6 poin dari APPI ini, lahir respon dari beberapa kelompok yang mengatakan bahwa APPI telah bersikap tidak fair. Tidak hanya itu,  mereka mempertanyakan kemana saja APPI selama ini? Baru muncul di kasus ini. Kenapa APPI baru muncul sekarang sementara sudah banyak korban berjatuhan hanya karena ingin menyaksikan sepakbola?

 

Seperti apa yang telah dikatakan Ponaryo Astama sebagai CEO APPI, selama ini kami percaya dengan sanksi-sanksi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator liga bahkan PSSI. Tetapi untuk saat ini kepercayaan kami jelas berkurang karena hukuman yang diberikan operator dan PSSI dirasa tidak memberikan efek jera kepada suporter. Atas dasar itulah maka APPI bergerak.

 

Lalu, apa langkah kongkrit dari APPI untuk kasus ini? Kami memberi solusi kepada stake holder untuk memberikan sanksi berupa pengurangan poin. Namun solusi dari APPI ini diusulkan untuk bisa diterapkan kedepan. Bisa untuk pekan-pekan berikutnya atau musim kompetisi selanjutnya. Tidak untuk saat ini. Mengapa? Karena untuk saat ini sanksi pengurangan poin bagi salah satu klub dirasa kurang tepat. Aturan seperti ini tentunya harus disepakati oleh semua klub sebelum liga bergulir.

 

Sementara bagi saya pribadi, sanksi yang bisa membuat efek jera adalah berupa  pengurangan poin, tidak bisa menggunakan stadion home untuk menggelar laga kandang atau bisa bermain di kandang namun tanpa penonton. Tapi sekali lagi, ini harus diterapkan pada kasus di masa depan.

 

 

Itu solusi dari saya. Apa ada solusi lain yang tepat untuk kejadian seperti ini tidak terulang kembali?.

 

 

 

Never give up and stay strong

 

 

Tamat….