Drama

Drama, drama, dan lagi-lagi drama terjadi di dalam lapangan dan luar lapangan. Sepertinya gesekan tidak pernah absen dalam laga Persib-Persija, dua tim besar yang ada di negeri ini, yang tersaji di Stadion Manahan Solo, Sabtu malam, 20 November 2021, lalu. Tensi panas kerap hadir mewarnai pertandingan yang selalu ditunggu oleh banyak penikmat sepak bola Indonesia. Layaknya duel El Clasico antara Catalunya kontra Madrid, yang selalu ditunggu penikmat bola seluruh dunia, perang urat syaraf, sebelum dan sesudah pertandingan, antara kedua tifosi serta mereka yang terlibat dalam pertandingan, menjadi hal yang lumrah.

Psywar yang dilakukan pada tiap jelang pertandingan adalah hal yang sangat wajar, karena itulah bumbu sebuah big match. Di liga sepak bola Eropa, psywar menjadi hal yang biasa, karena justru bisa menjadi motivasi buat tim yang mereka dukung atau bela. Jika kita lihat liga sepak bola Eropa terkait dengan psywar, bisa jadi sosok mantan pelatih Inter Milan, Real Madrid, dan Manchester United ini adalah rajanya. Sering statement-nya justru membuat pertandingan semakin ditunggu para penikmat sepak bola. Ya, Jose Mourinho menjadi salah satu contoh penebar psywar pada tim lawan sebelum pertandingan. Tujuannya agar membuat tim lawan terserang secara psikologis dan akhirnya menurunkan mental bertanding mereka.

Kita kembali bicara tentang drama yang terjadi dalam pertandingan Persib vs Persija akhir pekan lalu. Beberapa hari sebelum pertandingan, beredar berita tentang pernyataan yang bernada psywar dari salah satu petinggi klub. Bagi saya, apa yang beliau katakan itu sah-sah saja dan merupakan hal yang normal. Namun, karena negara kita tidak terbiasa dengan hal yang seperti ini, pernyataan psywar itu malah terkesan agak sombong di mata banyak orang. Agak sombong di mata banyak orang, tapi tidak untuk saya. Ini bukan soal melihat orang tersebut sombong atau terlalu percaya diri. Motivasi justru mengalir deras dari diri seorang Andritany ketika membaca statement tersebut. Ditambah, seorang Andritany lebih suka menutup mulut rapat-rapat sebelum pertandingan dimulai, ketimbang membuat pernyataan psywar yang bisa saja kembali kepada dirinya usai pertandingan. Tetapi sekali lagi, bagi saya, apa yang dilakukan petinggi klub tersebut tidak salah dan masih dalam batas kata yang wajar.

Di sisi lain, jika pembaca melihat atau menonton program extra time di kanal youtube milik Persija, ada kata berbau kontroversial yang saya ucapkan, yakni “berantem”. Berantem di sini artinya bermain dengan tekad yang keras dalam konteks sepak bola, bukan berantem dalam arti berkelahi atau baku pukul. Jadi, harus benar-benar dicermati, bahwa saya bukan memprovokasi teman-teman untuk beradu jotos, tetapi sedang membakar semangat teman-teman yang akan bermain dalam pertandingan. Sementara, kalimat “Saya dan Maman bertanggung jawab”, itu mengisyaratkan agar teman-teman merasa terlindungi oleh para pemain senior.

Kick Off
Baru 37 detik yang lalu wasit Aprisman Aranda meniup pluit untuk pertama kalinya, menandakan pertandingan dimulai, sang pengadil sudah harus meniup pluit susulan lantaran Yan Motta, pemain bertahan Persija, melanggar Geoffrey Castillion di sisi kanan pertahanan Persija. Tendangan bebas untuk Persib. Marck Klok, mantan pemain Persija, bersiap untuk mengeksekusinya. Klok yang sudah terlihat membidik tiang dekat gawang Persija yang dikawal Andritany, melepaskan sepakan yang membuat bola memutar melewati pagar hidup yang sudah dikoordinasikan oleh Andritany sebelumnya. Bola langsung mengarah ke sisi bawah kanan gawang. Meski pandangannya terhalang oleh dua pemain yang berdiri dekat di hadapannya, dengan sekuat tenaga, Andritany mencoba menghalau laju bola.

Memang jika dilihat melalui layar kaca, bola terlihat sudah melewati garis gawang alias masuk. Namun jika pembaca bertanya mengapa bola yang sudah masuk, terus dibuang keluar. Saya bisa menjelaskan dari sudut pandang saya dalam posisi sebagai seorang penjaga gawang. Sebagai penjaga gawang, sudah pasti saya tidak akan berdiam diri saat melihat bola meluncur menuju gawangnya. Pasti dengan sekuat tenaga, walaupun semisal terlambat sepersekian detik saja, saya akan melakukan reaksi. Pembaca bisa bertanya kepada orang atau penjaga gawang yang satu profesi dengan Andritany tentang pernyataan ini.

Seusai pertandingan, saya beberapa kali menyimak tayangan video momen tersebut, hanya untuk memastikan apakah bola tersebut gol atau tidak. Dari apa yang saya sudah lihat berulang kali dari satu sudut tayangan ini, bola terlihat sudah melewati garis gawang. Tapi apakah seluruh bagian bola sudah melewati garis gawang? Saya tidak tahu pasti karena tidak ada tayangan dari sisi samping gawang. Tayangan dari sisi ini tentunya akan lebih memudahkan kita menilai bahwa bola tersebut sudah masuk atau belum. Kejadian tersebut begitu cepat. Jika ada gambar dari sisi samping gawang dan bola tersebut gol, berarti kejadian ini seperti dejavu bagi saya. Kejadian serupa di stadion yang sama empat tahun lalu, bahkan di gawang yang sama dan dengan lawan yang sama. Memang dari kejadian ini jelas ada pihak yang dirugikan. Namun semua ini adalah esensi dari sepak bola itu sendiri yang pada akhirnya melahirkan berbagai perdebatan dan drama khas sepak bola.

Satu gol tercipta hasil tandukan striker Persija bernomor punggung 9, Marko Simic. Skor 0-1 tidak berubah hingga Aprisman Aranda meniup pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Tiga poin yang diperoleh oleh Persija ini membuat Persija naik satu peringkat ke posisi 8 klasemen sementara. Persib sendiri akhirnya gagal menggeser posisi Bhayangkara FC yang sebelum laga ini digelar berada di puncak.

Selebrasi
Pertandingan selesai dengan kemenangan untuk Macan Kemayoran. Tiga poin dari Manahan yang diraih mampu melepaskan semua tekanan dan beban berat pertandingan. Selebrasi seolah melepaskan tekanan dan beban yang ada dan membuat semua elemen tim terlihat begitu bahagia walau masih dalam batas yang terkontrol dan wajar. Melompat, berpelukan, berteriak, canda serta tawa mewarnai selebrasi kami usai laga. Andritany sendiri pun melakukannya, apalagi dia pasti merasakan bahagia yang lebih dari teman-teman yang lainnya. Bahagia yang lebih?

Dari 12 game yang sudah dilakoni Persija di liga musim 2021/2022 ini, di mana Andritany bermain dalam 9 game di antaranya, untuk pertama kalinya ia mampu melakukan clean sheet. Jadi wajar saja torehan ini disambut dengan suka cita. Terlebih catatan ini diraih saat melawan tim rival. Jangan lupa juga, bahwa Andritany memiliki target pribadi dalam menjawab psywar dari petinggi klub lawan. Jadi, tidak salah atau sah-sah saja jika Andritany bahagia di malam itu. Saya pun yakin, jika ini terjadi dengan tim mana pun, pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Persija dan Andritany.

H+3
Kaget! Sesaat setelah beristirahat di siang hari, banyak mention dan comment negatif tentang dirinya di media sosial. Andritany mencoba mencari tahu penyebab munculnya komen negatif dari warganet yang ditujukan pada dirinya. Seperti biasa, seorang Andritany selalu membacanya satu per satu dan memastikan tidak akan ada yang terlewat satu pun. Rasa penasaran dalam dirinya cukup tinggi untuk mencari trigger dari semua ini. Awalnya, Andritany hanya tahu tentang kata “EZ” dan bertanya-tanya dalam hati tentang maksud dari kata ini. Sempat ia bertanya pada teman sekamar, “Apa sih ‘EZ’, bro?”. Respon teman sekamar terdiam dan hanya menjawab singkat, “EZ…? Kagak tau gue.” Rasa penasaran akhirnya dikesampingkan sementara dan bergegas melakukan persiapan latihan sore.

Selesai latihan sore yang dilakukan tim Macan Kemayoran, seperti biasa, rutinitas yang dilakukan Andritany adalah membuka ponselnya untuk memberi kabar keluarga, sembari melihat media sosial. Rupanya mention dan tag untuk akun IG-nya semakin banyak. Pada akhirnya, rasa penasaran itu terjawab oleh trigger dari kata “EZ” tadi. Sontak Andritany tertawa setelah tahu dari mana trigger ini berasal.

Sampai di satu titik, Andritany bertanya kepada dirinya sendiri. Seberani itu kah seorang Andritany berkomentar merendahkan atau membuat sakit hati satu golongan. Apalagi golongan tersebut menjadi salah satu saksi dari perjalanan karier seorang Andritany. Saya rasa tidak mungkin Andritany melakukannya. Terlalu arogan, tidak tahu diri serta kampungan jika hal itu benar terjadi. Merendahkan tim yang tidak pernah dibelanya saja tidak akan pernah terjadi, apalagi tim yang menjadi saksi perjalanan kariernya. Itu jelas tidak akan pernah terjadi.

Memprovokasi bukanlah gaya seorang Andritany. Membuat psywar saja tidak pernah dia lakukan, apalagi provokasi. Bukan seorang Andritany namanya jika hal itu terjadi. Tapi, inilah bumbu dari sebuah pertandingan dengan tensi tinggi dan panas. Selalu saja ada drama dan cerita yang layak untuk menjadi sebuah perdebatan. Ini adalah drama yang dibungkus dengan sepak bola.

Diakhir artikel ini saya hanya ingin menyampaikan kepada teman-teman semua untuk tetap berhati-hati menerima sebuah berita atau cerita. Jangan sampai kita termakan provokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mencoba memanfaatkan momentum agar rivalitas ini semakin memanas, bahkan mengambil keuntungan dari “permusuhan” ini. Tidak sedikit orang yang bahagia melihat negara yang kita cintai ini menjadi terbelah. Jangan karena gengsi dan provokasi, pada akhirnya kita menjadi pecah dan memberi keuntungan bagi segelintir orang.

Terima Kasih
AA26

Never give up and stay strong