Hope

“Hope”

Hope dalam bahasa Indonesia berarti “harapan”. Setiap orang pasti memiliki harapan. Jika ada orang yang tidak memilikinya, maka artinya orang itu tidak punya motivasi dalam menjalankan hidup. Dengan kata lain, tidak ada tujuan yang ingin dicapai.

Hope tidak boleh mati dan tak boleh hilang. Jika keduanya terjadi, hidup tidak jauh berbeda dengan seonggok mayat hidup yang sedang berjalan di tengah kerumunan orang-orang lain (yang memiliki harapan). Hidup tapi sebenarnya mati.

Kita sebagai manusia bisa saja kehilangan segalanya. Pekerjaan, keluarga, bahkan orang yang paling kita cintai. Tetapi tidak untuk harapan. Karena harapan adalah segalanya. Bagi saya, harapan adalah titik nadir paling terendah yang dimiliki dari setiap orang. Harapan harus selalu abadi dalam diri.

Salah satu alasan mengapa saya masih berada di Persija adalah “harapan”. Saya hampir saja benar-benar meninggalkan Persija pada 2013 karena pertimbangan masalah financial yang hampir selalu menjadi kendala ketika itu.

Pada 2013 saya mengambil keputusan yang besar dalam hidup, saya memutuskan untuk menikah. Keputusan ini saya ambil dengan modal keberanian yang saya miliki. Mengapa saya katakan keberanian? Karena saya  tidak memiliki pekerjaan tetap ketika itu. Saya keluar dari Persija, tenaga saya tidak lagi dipakai oleh Persija, dan saya memutuskan untuk berhenti sejenak dari sepak bola.

Mungkin banyak pembaca yang sudah tahu mengapa saya tidak berada di Persija pada saat itu. Meski sebenarnya di tahun yang sama saya mendapat tawaran dari klub lain, saya lebih memilih berhenti sejenak karena yakin bahwa akan kembali lagi ke Persija pada waktunya. Itu adalah sebuah pilihan hati.

Saya juga percaya kalau tim Persija akan kembali berjaya secara finansial dan prestasi. Persija memiliki nama besar dengan segudang prestasi, serta basis suporter yang besar akan membuat tim ini menjadi mapan di masa mendatang.

Tujuh tahun berlalu, dua piala bergengsi di tanah air sempat mampir di Ibu Kota. Torehan ini diraih dengan segala usaha, berbagai macam badai yang  menerjang, dan derasnya kritik mulai dari yang wajar hingga di luar dari kewajaran. Kita melaluinya bersama. Dengan dua piala dan satu penghargaan individual, tahun 2018 adalah tahun terbaik untuk saya dalam satu dekade bersama Persija. Tahun yang luar biasa.

Kembali ke 2013, saat saya bersama beberapa teman memutuskan untuk keluar dari Persija. Selain saya, ada mas Bepe (yang saat ini menjabat sebagai manajer tim), Ramdani Lestaluhu yang pindah ke Sriwijaya FC ketika itu, dan Leo Saputra yang memilih hijrah ke Persita pada pertengahan musim.

Ada beberapa momen saat itu yang tidak mungkin saya akan lupakan. Tentang ucapan Bepe, bagaimana setianya Leo Saputra, dan nasehat dari seorang sahabat, Ramdani Lestaluhu. Saya selalu  ingat hingga hari ini.

Ramdani dengan nada rendah memberikan kabar bahwa dia akan pergi ke Palembang bergabung dengan Sriwijaya FC. Tak cuma kabar, namun ia juga memberikan nasehat pada saya bahwa kita sebagai pemain muda perlu bermain dan keluarga kita pun butuh makan. Dia memilih pergi ke Sriwijaya FC. Karena menurutnya tidak akan ada orang datang ke rumah kita untuk bertanya apakah keluarga kita sudah makan atau belum. Artinya orang lain tidak akan perduli dengan keluarga kita selain kita sendiri, dan keputusan itu sangat profesional.

Sementara Leo Saputra adalah sosok senior yang setia dan memiliki komitmen tinggi. Pandangan itu tidak akan pernah berubah dalam benak saya sampai kapan pun. Orang yang paling setia menemani Bepe menghadapi masalah hingga masalah selesai.

Untuk Pak Manajer (Bepe), ini tentang janji yang telah ditepati. Masa itu adalah masa dimana hampir setiap saat saya berkomunikasi dengannya. Pada akhirnya tibalah hari dimana pendaftaran pemain untuk liga ditutup. Kami bertiga (Bepe, Leo, dan saya) sudah pasti tidak akan bermain di liga Musim 2013. Di ujung telepon, Bepe berkata “Suatu saat nanti kita kembali ke Persija dan mengangkat piala bersama”.

Setelah 5 tahun berlalu akhirnya janji dan mimpi itu terwujud. Kami bisa mengangkat piala bersama meski sayangnya tanpa Leo Saputra, salah satu nama yang pernah berjuang bersama kami. Tapi walau pun demikian, terima kasih mas Bepe telah menepati janji yang pernah diucapkan.

Mimpi dan janji itu telah terwujud. Sekarang saatnya saya berlari mengejar mimpi, janji dan harapan dalam diri ini yang harus bisa saya wujudkan sendiri.

Never give up and stay strong

Selesai….