How I Protect My Family from Covid-19 during Quarantine

Hampir dua bulan sudah pandemi Covid-19 masuk ke Nusantara. Kita semua tahu bahwa kasus pertama Covid-19, yang juga lebih sering kita sebut Corona, ini ditemukan pertama kalinya pada awal Maret lalu. Virus ini membuat semua orang takut karena penyebaran atau penularannya sangat mudah. Virus ini pun sangat berbahaya bagi orang-orang yang sudah lanjut usia (lansia), serta mereka yang memliki penyakit bawaan yang terbilang sudah kronis. Kita bisa lihat demikian cepatnya virus menyebar. Secara nasional, pada awal Maret terhitung hanya dua pasien yang terinfeksi. Namun hingga Jumat, 24 April 2020, kasus positif virus berbahaya ini sudah menembus angka 8.211. Kabar bagusnya, sudah ada lebih dari 1.000 pasien yang dinyatakan sembuh.

Bisa kita bayangkan bagaimana mengerikan virus ini jika melihat statistik tadi. Hanya dalam waktu satu bulan lebih angka itu dapat naik dengan drastis dan mencapai ribuan. Maka dari itu, saat ini pemerintah Indonesia bergerak dengan membuat aturan physical distancing yang dilanjutkan dengan penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Salah satu aturan dan kebijakan ini adalah mengharuskan semua orang menggunakan masker saat berkegiatan di luar rumah. Baru-baru ini pun pemerintah membuat kebijakan larangan mudik bagi mereka yang ingin merayakan Idul FItri di kampung halaman tahun ini. Semua aturan yang dikeluarkan pemerintah dengan dasar yang sangat jelas, yakni untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang semakin membandel.

Saya merasakan dengan adanya kebijakan PSBB yang mengharuskan orang untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah, membuat kita sedikit banyaknya harus mengubah kebiasaan. Seperti apa yang diri saya sendiri alami. Sebelumnya saya terbiasa bangun tidur antara pukul 6.30 atau 7.30 karena harus mengantar anak perempuan saya berangkat ke sekolah. Bahkan jika Persija mengagendakan latihan pagi, saya sudah harus memacu kendaraan menuju tempat latihan pada pukul 5.30. Selama PSBB, saya berubah menjadi “orang siang” alias orang yang bangun lebih siang. Karena selama adanya pandemi proses belajar mengajar harus dipindahkan ke rumah, membuat saya tidak punya kegiatan mengantar anak ke sekolah lagi. Segala agenda latihan Persija pun hingga saat ini masih diliburkan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Saat ini rutinitas mengantar anak ke sekolah dan latihan Persija tergantikan dengan kegiatan belanja kebutuhan pokok keluarga. Lumayan hitung-hitung hiburan walau capek karena memang bukan kebiasaan saya melakukan aktivitas ini. Tapi hal ini mau tidak mau harus saya lakukan karena tujuannya dalah untuk menjaga keluarga saya dari covid-19. WHY? Saya akan segera jelaskan maksud dari kata WHY ini.

Saya memiliki keluarga kecil beranggotakan istri dan dua orang anak. Anak-anak saya masih berumur 5 dan 2 tahun, yang menurut saya sangat rentan terpapar virus baru seperti Covid-19 ini. Mereka belum memiliki imun atau anti-body sekuat orang dewasa. Maka dari itu, dalam situasi seperti saat ini, saya memutuskan untuk pergi sendiri tanpa ditemani oleh istri atau anak-anak ke tempat perbelanjaan yang relatif dekat dengan rumah untuk membeli kebutuhan pokok. Dengan mereka tetap berada di rumah, itu jauh lebih aman dan pastinya terlindungi.

Saya pergi seorang diri dengan berbekal selembar kertas dari istri saya yang berisi catatan barang-barang yang harus dibeli. Setiba di supermarket pastinya saya mengambil troli dan langsung membersihkan pegangan serta bagian sisi atasnya dengan hand sanitizer. Saya selalu membawa hand sanitizer yang saya taruh dalam saku celana atau tas kecil saya. Setelah itu saya baru keluarkan selembaran kertas yang “amat penting” itu dalam misi ini. Mulailah saya melangkahkan kaki ini untuk mencari berbagai barang yang tertera di dalam kertas itu. Terkadang ada rasa kesal juga karena bagi saya belanja itu ibarat sedang mencari potongan-potongan puzzel yang hilang. Butuh waktu dan kesabaran ekstra dalam melakoni peran ini karena saya kurang tahu persis letak barang-barang yang ada di kertas tersebut. Berbeda dengan istri saya yang sudah tahu dan paham letak barang yang ingin dia beli. Namun biarpun kesal, saya tetap melakukannya dengan penuh semangat karena bagi saya apa yang saya lakukan ini secara tidak langsung melindungi istri dan para buah hati saya.

Setelah semua barang yang tertera dalam kertas tersebut saya sudah pastikan aman, saya langsung tancap gas menuju rumah lewat jalan tol. Jalan menuju rumah hanya melalui satu gerbang tol. Saya sudah pasti melewati gerbang Tol Otomatis (GTO). Usai men-tap kartu tol di GTO, saya langsung menyemprotkan kartu GTO dengan cairan hand sanitizer. Saking semangatnya menyemprot, kadang kartu tol sampai jadi lengket dan tidak nyaman dipegang. Namun lagi-lagi, semua ini adalah protokol ala saya dalam menjaga keluarga dari Covid-19. Bicara soal hand sanitizer, jika pembaca pernah bertamu ke rumah saya dalam situasi sekarang ini, pembaca pasti tahu bahwa saya menyediakan botol hand sanitizer ukuran besar di teras depan rumah dengan kertas putih yang tertempel di atasnya berisikan tulisan: “Tolong pakai hand sanitizer sebelum masuk rumah”. Semua orang wajib menyemprotkan tangannya sebelum masuk ke rumah.

Begitu tiba di rumah, semua barang belanjaan saya keluarkan dari mobil, lalu barang-barang itu saya semprot dengan menggunakan cairan disinfektan di garasi. Setelah semua barang saya semprot dan saya pastikan tidak ada satupun yang terlewat, saya bergegas mandi. Saya harus langsung membersihkan diri dengan mandi karena saya baru saja berkegiatan di luar rumah. Setelah saya mandi dan barang-barang sudah kering dari cairan disinfektan, saya langsung masukan barang-barang itu ke dalam rumah.

Saya minum air putih lebih banyak dari biasanya dan tetap rutin menjaga kondisi fisik dengan terus berolahraga. Saya menyediakan vitamin serta madu untuk dikonsumsi oleh kami semua agar daya tahan tubuh kami sekeluarga terjaga. Saya pun berusaha menciptakan suasana gembira bagi keluarga saya dengan mengajak mereka bermain, bercerita, dan tertawa. Kondisi fisik, mental, dan perasaan yang sehat dapat lebih melindungi tubuh kami dari penyakit.

Lalu demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini di linkungan terkecil kami, saya meliburkan orang-orang yang berkerja di rumah. Saya juga tidak lagi menerima tamu jika tidak dirasa sangat penting. Bukan berarti sombong, tapi sekali lagi, saya harus menjaga dan melindungi keluarga. Ini adalah prioritas dan tidak bisa ditawar-tawar.

Demikian sedikit cerita tentang bagaimana saya melindungi keluarga saya selama menjalani karantina ini.

Dan untuk para pembaca mari kita ikuti himbauan dan semua pertauran yang telah diatur oleh pemerintah.

Tetap berada di rumah, social distencing, dan WFH.

Tetap semangat dan sehat selalu.

Never give up and stay strong.

Selesai….