Menanti Secarik Kertas Di Tengah Gurun

Surakarta 8 Januari 2021. Ini adalah tulisan pertama saya di tahun 2021. Ini pun adalah kesempatan pertama saya bisa menulis artikel dalam beberapa bulan terakhir untuk dimuat di website pribadi saya. Banyak momen serta cerita yang terlewat dan tak sempat dijadikan artikel, walau sebenarnya semua itu akan selalu saya ingat dalam benak saya. Momen dan cerita yang akan selalu teringat antara lain; 1 Oktober, 1 November, dan  pertama kalinya saya berulang tahun di masa pandemi. 

Sore ini saya bersahabat dengan secangkir cappucino dalam menulis artikel ini, ditambah dengan pemandangan Mangkunegaran yang tepat berada di belakang saya. Dengan kondisi cuaca yang mendung, awannya yang cukup gelap, sepertinya akan turun hujan lebat. Cuaca yang berpadu dengan minuman khas kopi dari benua Biru ini memang sangat pas dengan semua kondisi ketidakpastian sepak bola kita belakangan ini.

Akhir-akhir ini media sosial sangat gaduh dengan polemik terkait perizinan penyelenggaraan kembali Liga 1 yang sudah berhenti sejak pandemi covid-19 melanda Indonesia atau sejak Maret hingga sekarang. Liga 1, bahkan sepak bola Indonesia secara keseluruhan, berhenti total. Tidak ada 1 game pun yang digelar sejak Maret 2020 hingga Januari 2021. Miris memang melihat kenyataan ini sementara liga-liga negara lain nyatanya sudah berjalan sebagaimana mestinya walau tanpa adanya penonton yang hadir di stadion.

Banyak orang melalui media sosial mengungkapkan rasa kecewa terhadap kepolisian yang hingga saat ini belum memberikan surat izin keramaian bagi operator liga untuk menggelar Liga 1. Saya rasa ini wajar dan sangat manusiawi ketika masyarakat mengungkapkan ketidakpuasan terhadap situasi ini, walau saya yakin pihak-pihak yang memiliki wewenang tentunya memiliki pertimbangan dan keputusan yang sangat bijak bagi kepentingan kita bersama.

Kemarin saya membaca sebuah posting salah satu akun di instagram yang isinya mengungkapkan hal tentang tiga cabang olah raga yang mengajukan izin keramaian ke pihak kepolisian, yaitu bola basket (IBL), bola volly (Pro Liga), dan sepak bola (Liga 1). Dari tiga cabang itu, disebutkan hanya ada dua yang mendapatkan izin untuk bisa berjalan, yakni  IBL dan Pro Liga. Izin belum diberikan untuk Liga 1. Nah, ini yang menjadi tanda tanya besar buat masyarakat. Saya juga tidak tahu pasti apakah berita ini valid atau dibuat-buat oleh oknum tertentu yang bisa saja bertujuan untuk makin memanaskan situasi yang memang sudah mulai panas sejak awal Oktober lalu. 

Bagaimana situasi ini tidak makin memanas, bisa kita bayangkan bahwa sejak Oktober hingga saat ini para pemain, pelatih, ofisial, dan suporter sudah beberapa kali diberikan harapan yang penuh dengan ketidakpastian. Mengapa saya tidak menyebutkan federasi yang juga diberikan harapan? Karena harapan yang penuh ketidakpastian itu datangnya dari federasi, bukan dari pihak kepolisan yang memang memiliki wewenang terkait perizinan untuk berjalannya liga.

Hal lain yang mungkin membuat banyak kalangan kecewa adalah penundaan pelaksanaan Liga 1 oleh operator pada awal Oktober dikarenakan seolah ada narasi dari pihak kepolisian dan jajarannya bahwa mereka sedang fokus dalam penyelenggaraan Pilkada Serentak yang dilaksanakan pada awal Desember 2020. Seiring dengan selesainya Pilkada yang berjalan dengan aman, kini banyak masyarakat kembali menyuarakan “tuntutan” untuk bergulirnya Liga 1. 

Saya menulis artikel ini atas nama pribadi, bukan dalam kapasitas saya sebagai anggota atau exco Asosiasi Pesepak bola Profesional Indoneisa ( APPI ). Menurut saya, APPI sudah melakukan langkah yang benar dengan menyurati PSSI untuk segera memutuskan nasib liga yang tak kunjung ada kejelasan ini. Lain ceritanya jika APPI menyurati pihak kepolisian. Itu artinya APPI sudah salah jalan dan memotong kompas, karena APPI tidak punyak hak atau kewajiban untuk itu.

Sekali lagi, saya sampaikan hal ini atas nama pribadi, tanpa pesan titipan atau suruhan pihak mana pun. Artikel ini murni atas dasar isi kepala dan pandangan seorang Andritany.

Saya harus akui saat ini saya seperti sedang berada di tengah gurun pasir yang sedang dahaga akan sepak bola. Saya rasa para penikmat sepak bola juga sama seperti saya yang haus akan sebuah hiburan. Beberapa bulan saya berada di rumah tidak sekali pun saya menonton pertandingan sepak bola, meski tim favorit yang bertanding. Mengapa? Karena laga liga Eropa selalu dilangsungkan pada waktu di mana saya semestinya beristirahat. Berbeda dengan liga Indonesia yang disiarkan sore hari, tidak pernah mengganggu waktu istirhat. Maka dari itu semenjak liga 1 vakum, saya tidak pernah menonton hiburan tanpa rekayasa ini. Saya pun tidak pernah menonton acara televisi kecuali berita, biar pun belakangan isi berita selalu itu-itu saja, tentang skandal artis, kasus korupsi atau berita kasus covid-19 yang selalu meningkat.

Paragraf di atas adalah uraian saya dari sisi hiburan, kini saya akan menjelaskan dari sisi saya sebagai pelaku sepak bola. Sejak Maret 2020 kami vakum, lalu pada akhir Agustus kami semua melakukan persiapan dengan sebuah harapan pada awal Oktober liga bisa bergulir sesuai rencana. Tetapi pada kenyataanya semua hanya sebuah harapan yang tidak pernah menghadirkan kepastian. Dengan vakumnya kami, finansial para pemain, pelatih, dan ofisiall mulai goyang. Bahkan ada beberapa pemain yang sudah mulai menjual aset yang dimilikinya selama bermain sepak bola demi bertahan hidup. Banyak orang bergantung kepada sepak bola. Bukan puluhan, bukan ratusan, tetapi ribuan orang menggantungkan hidupnya  di sepak bola. Saya baru menyebutkan kisaran jumlah yang ada di dalam sebuah tim, belum termasuk wasit dan semua perangkat pertandingan yang jumlahnya tidak sedikit.

Kami pun sedih ketika profesi yang kami cintai dan banggakan ini tidak bisa kami jalani. Belasan hingga puluhan tahun kami mencintai apa yang kami lakukan selama ini, harus terhenti hanya karena secarik kertas dengan coretan yang kami sendiri pun tidak pernah tahu apa bunyi dari coretan tersebut.

Saya harus akui bahwa saya iri dengan negara-negara lain yang bisa menjalankan liga. AS dengan angka kasus covid yang tinggi namun liganya tetap berjalan. Italia yang pada awalnya porak poranda oleh pandemi dan kita ragu mereka bisa melewatinya, pada akhirnya terbukti mereka mampu dan liganya berjalan sebagaimana mestinya walau tanpa penonton. Semsetinya negara kita tidak ada alasan untuk tidak menggelar liga jika kita berkaca dari dua negara tersebut, kalau mereka saja bisa mengapa kita tidak.

Di akhir tulisan ini saya berharap kepada para petinggi yang memiliki wewenang dan kepentingan dapat memahami bahwa masalah ini berdampak pada ribuan orang yang mencari makan di sini. Karena sejatinya sepak bola memang adalah alat perjuangan, sepak bola pun alat pemersartu bangsa.

Semoga bapak-bapak dapat memberikan kami sumber mata air di tengah gurun yang saat ini sedang kami lalui untuk melepaskan dahaga.

never give up and stay strong

….