Pencurian Umur atau Mental

Saya baru terbangun dari tidur siang ini. Seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, saya selalu “bangun pagi” ketika posisi matahari mulai agak meninggi. Jika biasanya begitu bangun tidur saya langsung minum air putih sebanyak-banyaknya, tapi karena hari ini saya sedang berpuasa, kebiasaan bagus itu tidak saya lakukan. Ya, pastinya. Karena jika tetap saya lakukan, berarti batal dong puasanya, hehehe.

Dengan mata yang masih belum terbuka lebar secara sempurna, saya melangkahkan kaki menuju telepon genggam yang sedang dalam pengisian daya, yang letaknya sekitar sekitar dua meter dari tempat saya berbaring. Banyak notifikasi yang masuk. Mulai dari e-mail, game, misscall, dan beberapa pesan singkat melalui whatsapp.

Ada satu pesan singkat dari salah seorang teman saya yang saat ini posisinya sedang berada di sebuah kota yang berjarak 464 km dari Jakarta. Sudah lama kami tidak saling tegur sapa, bahkan melalui alat komunikasi sekali pun. Awalnya dia menanyakan kabar saya dan keluarga dalam situasi pandemi ini, saya balas dengan jawaban apa adanya. Saat topik perbincangan kami mulai meluas, dia pun memutuskan untuk menelepon saya. 

Sama seperti saat kami berdiskusi tatap muka, semuanya berjalan begitu cair dan hangat. Kami selalu berdiskusi tentang sepak bola dan sesekali tentang kehidupan serta bisnis. Jika bicara bisnis, saya sangat suka dengan apa yang ada dalam kepala orang ini. Dia memang memiliki dasar sebagai pebisnis. Di sisi lain, dia pun sangat peduli dengan sepak bola Indonesia. 

Kembali ke cerita tentang percakapan lewat telepon tadi, tiba-tiba dia bertanya, “Bro, menurut lo, apa penyebab pemain sepak bola kita ketika naik ke level senior tidak sebagus ketika mereka masih yunior? Apakah karena faktor pencurian umur atau mental?” Seolah sedang mengerjakan soal pilihan ganda (multiple choice) saat ujian sekolah, saya harus menjawabnya dengan tidak boleh keluar dari dua pilihan itu, pencurian umur atau mental. 

Saya menjawab bahwa faktor pencurian umur memang menjadi masalah besar di sepak bola kita. Hal ini dikarenakan banyak orang kita hanya berpikir untuk menjadi pemenang atau juara ketika bertanding di event kelompok umur atau level junior. Mereka tidak memikirkan karir ke depannya pemain muda yang bersangkutan. Lalu ketika pemain yang bersangkutan naik ke level senior, ia akhirnya tidak akan bisa bertahan lama karena usianya memang sudah tidak lagi sesuai dengan usia sebenarnya yang telah lewat. Dan ini semestinya menjadi tanggung jawab kita semua, orang tua, pelatih dan juga SSB (sekola sepak bola) yang semestinya sadar apa yang dilakukan, salah”.

Soal pertama selesai saya jawab. Teman saya ini pun lalu memberikan saya pertanyaan kedua, “Apakah di luar negeri atau bahkan Eropa sekali pun ada pencurian umur?” Saya langsung jawab bahwa saya tidak tahu pasti soal itu, tapi saya rasa ada. “Gue dengar sih negara di belahan dunia lain itu sering terjadi juga kasus seperti ini (pencurian umur)”, tambah saya.

Lanjut ke pertanyaan berikutnya dari dia. “Tetapi negara belahan dunia lain yang tadi lo bilang itu, timnasnya bisa masuk Piala Dunia, Bro”, tanyanya sedikit mencecar. Saya jawab, “Benar mereka bisa masuk Piala Dunia. Tapi coba lo lihat juga Bro,  mereka itu hampir semua pemainnya bermain di klub-klub liga Eropa”.

Masuklah kami dalam diskusi panjang dan perdebatan sengit yang didasari oleh bahasan pencurian umur dan mental. Dia sepertinya kurang setuju dengan posisi saya yang menilai persoalan pencurian umur sebagai biang keladi perbedaan kualitas pemain saat berada di level yunior dan senior. Ia lebih condong bahwa masalah mental adalah penyebabnya. Tiga puluh menit berlalu dan kami masih berdiskusi tentang dua bahasan itu. Dua bahasan ini pun akhirnya membuat saya seakan benar-benar terbangun dari “tidur” saya selama ini. 

Menjadi seolah terbangun dari “tidur” setelah teman saya ini menjelaskan alasannya kenapa dia lebih memilih masalah mental ketimbang pencurian umur. “Pemain sepak bola Indonesia ketika bagus di level yunior lalu menjadi buah bibir publik, kebanyakan langsung menjadi star syndrom (sindrom bintang). Gaya hidup yang mulai berubah dan sudah merasa jadi yang terbaik. Makanya gue bilang ini soal mental, Bro”, jelasnya.

Atas dasar penjelasan teman saya ini, pemikiran saya menjadi terbuka dan sepakat dengan apa yang sudah dia utarakan. Namun saya tambahkan juga, “jika bicara tentang sepak bola, persoalannya kompleks. Tidak bisa hanya pemain, federasi, atau bahkan suporter. Tapi semua pihak yang bersangkutan dengan sepak bola harus sama-sama punya visi, misi, dan mimpi yang sama serta mau berkerja sama untuk menjadikan sepak bola Indonesia lebih baik”. Dengan sejurus kemudian teman saya di ujung telepon ini berkata, “Setuju!”.

Never give up and stay strong

Selesai….