We Can Do It

Di malam yang sunyi ini saya duduk depan pintu kamar sambil memandangi pekarangan rumah yang basah tersiram air hujan. Sudah sepekan lamanya, usai laga Persija kontra Bhayangkara di Liga 1, saya hanya berada di rumah. Sama seperti sekolah dan banyak kantor lainnya, oleh manajemen kami semua diliburkan karena khawatir akan penyebaran virus COVID-19 yang semakin meluas.

Sejauh ini sudah lebih dari 400 kasus terkait COVID-19 yang terjadi di Tanah Air. Lebih dari 30 nyawa melayang karenanya. Pandemik ini memang bukan hanya menyerang Ibu Pertiwi, tetapi menyerang planet dimana kita tinggal, bumi. Negeri Tirai Bambu yang menjadi tempat awal mula virus ini berkembang, mulai pulih dan bisa menekan angka kasus dari wabah yang kini menjelma menjadi musuh nomor satu dunia. Italia  menjadi negara di benua biru yang memiliki kasus paling tinggi dengan angka kematian mencapai 4.000 jiwa lebih.

Hingga saat ini sudah banyak negara memberlakukan kebijakan lockdown seperti: Malaysia, Australia, Belgia, Italia, Filipina, dan beberapa negara lainnya. Sementara beberapa daerah di Indonesia seperti: Surakarta, Banten, dan Bogor, menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Jakarta juga menutup semua tempat pariwisata, museum, sekolah, dan tempat hiburan untuk mengurangi dampak penularan virus tersebut. 

Presiden Joko Widodo pun menghimbau seluruh masyarakat untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah, untuk mengurangi mobilitas dan berkumpulnya orang dalam jumlah banyak. Harus menjaga jarak. Social distancing, istilahnya. Banyak teman-teman saya yang memposting bagaimana mereka melakukan kegiatan kantor yang dikerjakan dari rumah atau Work From Home (WFH). Tidak sedikit juga orang yang harus mengisolasi diri mereka karena menimbang betapa mengerikannya penularan virus ini.

Dengan berkurangnya mobilitas orang di luar rumah, maka jika harus menyebutkan salah satu dampak positif dari situasi ini, setidaknya tingkat polusi udara menjadi turun.  Namun tentu saja situasi ini berimbas pada aspek ekonomi, sulitnya memperoleh izin keramaian, dan terbatasnya ruang untuk bersosialisasi. 

Pandemik ini pun berdampak dengan ditunda atau dimundurkannya beberapa jadwal event olahraga besar, dalam hal ini sepak bola. Pagelaran Euro 2020 dan Copa America harus dimundurkan hingga ke 2021 alias tahun depan. Saat ini liga-liga elit di Eropa seperti Serie A, Premier League, Bundes Liga, dan Ligue 1 pun sedang dihentikan sementara. Sama seperti mereka, liga Indonesia pun demikian.

Hingga kini belum ada titik terang kapan cobaan ini akan berakhir. Sinyal liga Indonesia akan kembali dilanjutkan juga masih belum terlihat. Dengan melihat berbagai perkembangan kasus virus ini dari hari ke hari, kecil kemungkinan liga Indonesia akan bergulir kembali dalam waktu dekat.

Saya sebagai pemain setuju dengan keputusan para pemangku kepentingan yang menunda jadwal liga, karena memang izin keramaian untuk menyelenggarakan pertandingan akan sulit didapatkan dari pihak keamanan. Kalau pun pertandingan tetap berjalan tanpa kehadiran penonton, saya rasa klub-klub juga akan merasa keberatan karena mereka tidak mendapat pemasukan dari penjualan tiket.

Keputusan untuk menunda liga akibat virus ini adalah langkah yang tepat mengingat tidak mungkin mengadakan kegiatan yang punya peluang besar berkumpulnya massa di satu tempat (stadion). Pemain dan suporter dapat tinggal di rumah untuk meminimalisir penyebaran virus ini.

Saya berpendapat kesehatan dan keselamatan tetap menjadi bagian terdepan dalam sepak bola.

Sesuai dengan judul artikel ini saya pribadi sangat yakin kita bisa melawan dan melewati pandemi ini.

Kesehatan dulu, sepak bola kemudian.

Stay safe, stay at home, We can do it.

Never give up and stay strong

Selesai….