Pemain Terbaik Opoo

Sriwijaya fc klub professional pertama saya di sepak bola. Klub yang bermarkas di provinsi Sumatra Selatan, atau lebih tepatnya di kota Palembang. Sriwijaya fc yang awalnya adalah Persijatim Solo, dan pada tahun 2004 berubah menjadi Sriwijaya fc. Di artikel ini saya tidak akan menceritakan tentang berdirinya tim kebanggaan masyarakat Sumatra Selatan, tetapi saya akan mengupas tentang ke datangan saya ke kota pempek.

2007 pelajar Asia di Zhuhai Thiongkok, saat itu diluar dugaan tim Nasional pelajar Indonesia melaju ke babak final, dengan setatus tim underdog. Indonesia ditantang Korea Selatan, yang notabene salah satu negara favorite juara di tournament tersebut. Sebelum dipertemukan di partai puncak, kedua negara tersebut sudah pernah bertanding di babak penyisihan group. Saat pertemuan pertama Indonesia menang dengan skor 1-2, tidak kita menyangka akan bertemu untuk yang kedua kalinya di partai pamungkas.

Ketika di pertandingan final harapan Indonesia untuk menjadi juara harus kandas di menit 84″, melalui free kick pemain negri Gingseng yang harus memaksa merubah papan skor menjadi 2-1, dan skor tidak berubah sampai akhir pertandingan.

Pertandingan selesai, terlihat semua pemain tidak merasa puas dengan hasil yang ada saat itu. Ketika semua berkumpul di dalam benc, seketika salah satu LO menghampiri saya, dan mengatakan “You have to take a position there, because you were chosen to be the best goalkeeper”. Sontak ketika itu saya terkejut, terkejut karena tidak mengerti apa yang dia katakan. Hahaha
Ketika itu juga saya ambil posisi di samping stage, walau sedikit tidak percaya, tetapi membuat diri saya bangga atas prestasi tersebut.

2008 saat itu saya masi duduk di bangku SMU. Suatu pagi, seperti biasa sebelum berangkat ke sekolah, saya menyenpatkan diri untuk membeli koran olah raga. Sejak dahulu saya mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia, saat itu, isi berita dari koran Bola halaman 13, di kolam kiri bawah ada berita tentang Sriwijaya fc. Yang membutuhkan pemain dengan posisi penjaga gawang, dengan alasan ketiga penjaga gawang harus menepi karena dilanda cidera. Ketika itu Ferry Routinsulu mengalami cidera lutut, Dede Sulaiman cidera engkel, Apriyanto cidera patah kaki saat liga champion Asia, dan di pastikan tiga penjaga gawang tersebut tidak bisa dimainkan untuk beberapa pertandingan.

Di hari itu juga saya mendapat panggilan untuk mengadu nasib di kota Palembang, dengan setatus goalkeeper terbaik Asia bukan berarti saya bisa langsung tanda tangan kontrak bersama Laskar Wong Kito. Ketika itu saya diberi waktu 3 hari untuk mengikuti seleksi, dan saya tidak sendiri ada Nurosid penjaga gawang yang sudah senior, saat itu beliau berusia 33 tahun, sedangkan usia saya, KTP saja belum punya.

Singkat cerita, saya pulang ke Jakarta setelah seleksi selama tiga hari, berselang dua hari saya landing di Jakarta, dan sudah tidak berharap banyak dengan Sriwijaya fc karena tidak ada kabar. Tidak di sangka saat itu juga saya mendapatkan telpon dari Pak Baryadi yang saat itu menjabat sebagai manager tim Sriwijaya fc. Berselang satu hari kemudian saya menandatangankan kontrak dengan Sriwijaya fc di asrama diklat Ragunan. Kontrak yang berdurasi 4 bulan tersebut, memastika Sriwijaya fc menjadi klub pertama saya di liga professional.

Saya harus menunggu lima hari untuk latihan bersama tim, karena tim saat itu masih melakoni pertandingan liga champion Asia di Jepang melawan Gamba Osaka.

Setelah lima hari saya menunggu, dan sudah tidak sabar lagi ingin berlatih bersama pemain-pemain top Sriwijaya, seperti Kayamba Gums, Zah Rahan, Muhammad Nasuha, Selamet Riyadi, Charis Yulianto, Alamsyah Nasution, Christian Warobay, Isnan Ali, dan banyak lagi bintang-bintang Sriwijaya fc. Tidak lupa juga ada pelatih kharismatik Rahmad Darnawan yang membawa Sriwijaya fc mendapat doubble winner.

Hari pertama latihan berjalan mulus, tetapi di hari kedua saya mendapatkan masalah, saya tidak bisa mengikuti metode latihan kordinasi tangga, dan sontak ketika itu juga menjadi bahan tertawa para senior-senior, saya menjadi malu, dan membuat tidak percaya diri.

Karena saya tidak ingin hal tersebut terulang, saya berlatih di dalam kamar tidur yang kebetulan saat itu saya mendapat kamar sendiri. Dengan menggunakan lantai sebagai alat, saya terus berlatih sampai lancar. Pada akhirnya saya tidak lagi menjadi bahan lelucon saat latihan kordinasi. Berhasil!!!

Suatu hari Gelora Jakabaring diguyur hujan, latihan terus berjalan. Metode latihan saat itu game internal setengah lapang, dan hari itu gawang saya di bobol beberapa kali. Dan ketika itu ada salah satu pemain, yang mungkin kecewa dengan penampilan saya saat itu, dan ia mengeluarkan kata-kata “pemain terbaik opo iki” dengan nada yang sedikit tinggi. Seketika saya kaget mendengar kata itu. Seandainya ditanya bagai mana perasaan saya saat itu, tidak bisa lagi saya ungkapkan dengan kata-kata.

Saat itu saya hanya bisa menahan gejolak emosi di dalam diri, dan sampai akhirnya berpikir, kata-kata itu menjadi cambuk motivasi untuk keberhasilan saya. Mungkin kalau tidak ada kata-kata “pemain terbaik opo iki” saya tidak akan seperti sekarang.

Seperti yang saya katakan di account YouTube Valentino Simanjutak, “Saat kita gagal, saat kita di remehkan, jadikan itu sebuah motivasi, dan cambuk kesuksesan”.

Tamat….